About

Saturday, February 2, 2013

Sajak Duka Ku

Adakah yang lebih gelap dari malam tanpa bintang
Lingkaran seputar rawa bertanya dalam senyap
Mimpi apa yang menggelantungi pucuk ilalang
Dalam rimbun belati di penghujung sepi

Apakah yang kau cari sandiwara
Hingga kau belah waktu dalam prahara
Kau jadikan pinangan pada naskah yang berbeda
Sementara kami lumat dalam kumuh sutradara

Sajak duka menerawan dikaki bukit
Pendakian panjang pun tak kuasa mencapai puncak
Alur waktu,akar seribu tariaan hanya menyisahkan desingan
Serpihanya mendekam di samudra lepas

Pada siapa kita tawarkan gemercik air
Dinginnya EMBUN, TAMAN SERIBU BUNGA
Tanpa kerikil dan RUMPUN BERDURI
Pada siapa kita titipkan belati
Agar seluruh ruang tersinari mata hari

KASIH...
Inilah.. SAJAK DUKA KU
Perih yang terus mengalir
Dari seratus delapan puluh MUARA

Hanya Satu Pintaku

Saat kau dan aku tak lagi bersama
Ku tasbihkan bait bait rindu menjadi do'a
Ku pagari rasa agar selalu terjaga
Semua itu ku persembahkan hanya padamu jua

Andai kelak waktu menyatukan kita
Di pelataran kasih penuh rasa cinta

Namun andai kita belum menyatu jua
Aku tetap menepi disisi sunyi dan sepi
Hingga waktu ku pun telah tiba
Tuk menghadap pada Illahi Robbi

Hanya satu pinta ku
Izinkanlah aku berakhir dalam peluk mu
Duhai insan yang terkasih
Di lubuk hatiku,, kau bertahta indah

Tidak Ada


Tidak ada yang perlu ditangisi
Tidak ada yang perlu disesali
Karena air matakupun telah kering
Karena hatikupun telah kembali membeku

Kau datang lalu pergi
Aku pun tak bisa berkata kata
Akupun tak bisa berucap
AKupun tak bisa menahanmu

Tinggallah jika kau ingin tinggal
Pergilah jika kau ingin pergi
Karena cinta tak bisa dipaksa
Biarkan saja cinta apa adanya