Wednesday, February 13, 2013
Telaga Rindu
Rindu…
Layaknya gersang pada air hujan
Berharap tetesnya menyejukkan
Raga ini telah lama tak ditemani
Hanya bayangmu sekilas dalam sepi
Walau jauh dari pandangan
Akankah angin membawa debar hati
Lirih membelai di dalam perasaan
Sebagai penenang gundah di kalbu
Sementara aku hanyalah telaga
Yang masih untuk menanti
Hujan kasih yang hilang
Terbawa kemarau panjang
Dan aku tetap bertahan
Meski kerontang memecah
Segumpal hati yang rindu
Melebur menjadi lumpur abadi
Ketika hujan tak mampu lagi setia pada musim
Maka kemarau datang hampiri telaga hati
Perlahan mengikis genangan cinta yang tersisa
Hanya tinggalkan tandus jiwa yang menyiksa
Ketika kemarau datang bertamu
Telaga jiwaku setia untuk menjamu
Meski tiada hujan yang menggenangi
Masih ada harap pada setitik tirta
Yang tersisa dari sisa kasihmu
Untuk menemani tandusnya hatiku
Melupa pada ku
Sejatinya aku mencintaimu tanpa ragu.
Serupa malam yang akan hilang dan berganti subuh lalu pagi, dan menjelang siang, bahkan petang.
Aku berhati-hati menjaga kata.
Berhati-hati untuk percaya.
Hendak melangkah ke mana,, jika bahkan sebuah tujuan,, aku tidak punya.
Aku percaya pada sebuah ingin.
Berharap pada sebuah doa.
Berupaya pada usaha…
Aku ingin bahagia,, di sebelahmu,, tanpa dia.
Bisa?
Jika segala minta yang aku punya adalah dosa ke pada celaka.
Maka ijinkan aku merana,, berlumur duka.
Aku mungkin tersakiti dan nyaris mati.
Tapi sesungguhnya sayang,,
Kau akan memohon dan memuja-muja waktu. Sekedar untuk berharap.
MeLupa,, pada ku.
Ingin ku
Aku merindukanmu dalam setiap kedipan mata. Dan jeda di antaranya kugunakan untuk mendoakanmu.
Aku tak ingin mengeja cinta dengan terbata-bata. Akan ku kukatakan dengan lugas, sehingga aku boleh memagut bibirmu dengan puas.
Aku ingin merabamu dalam satu kata.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Twitter
Facebook
Flickr
RSS

