Tuesday, February 12, 2013
Accchhhh ........
Sang bagaskara
Kembali bergeliat mesra
Pancarkan pesona
Senyum menggoda
Taburkan bias hangat merona
Bagi sejuk embun
Yang selalu bekukan jiwa
Sinar cerahnya membias
Diantara celah dedaunan
Tumbuhkan harapan
Ditengah hamparan
Taman kehidupan
Dikala tetes embun kesejukan
Telah pudar mengering
Diatas daun rerumputan
oleh semburat mentari
yang kembali hadir
membawa rona kehangatan
Semilir hembusan angin
Kembali membawa kesejukan
Bagi seisi penghuni Taman
Membelai mesra pucuk dedaunan
Dengan gemulai tari
Yang melenakan jiwa
Inilah nuansa pagi
Yang senantiasa bersemi
oleh guguran embun
Yang menetes ditaman hati
Sebelum akhirnya
Geliat mentari mewarnikan taman
Dengan bias cahaya yang abadi
Mencipta sentuhan keceriaan
Bagi lembutnya sebuah perasaan
Hingga sebentuk harapan
Tak lagi hanya sekedar impian
Musim yang Tlah Berganti
Mentari kini tak sudi lagi
Untuk singgah menyapa resah
Senja hari Paras wajah cakrawala
Dibuatnya bermuram durja
Tak lagi ceria seperti biasa
Berlarut lama mereka tinggalkan
Resah kedukaan bagi geliat taman
Melumat ribuan luka lama
Dalam ruang kebosanan
Yang teramat dalam
Angin pun lanjut berlalu
Menjemput rindu pada hampa
Awan kelabu teman seperjalanan
para pengembara mencari cahaya Cinta
Langit bermuram durja pada kesedihan
Yang amat dalam tiada hingga
Kala musim berganti menggelar
Rencana alam dari sebuah kehidupan
Suasana musim kali ini begitu terasa
Amat senggang dan memilukan
Deras hujan yang jatuh menerpa
Biaskan rona wajah sayu kerinduan
Ingin rasanya jeritan hati memohon
Pada senja yang beranjak pulang
Bahwa Jiwa resah telah begitu banyak
Memendam rasa kekecewaan
Atap langit kelabu nan sendu
Curahkan aliran tangis mengharu biru
Merobek luka lapisan awan
Menghitam menebar benih rasa kesepian
Di taman ini bongkahan hujan
Membeku telah bergugur berjatuhan
Menerpa dinding jiwa
Yang tengah terluka
Oleh ribu rasa kehilangan
Gelisah hujan musim ini teramat berat
Terasa menyiram jiwa merana
Mencipta duka dalam ritme irama lara
Ribuan ketukan alam impian
Nyanyiannya bersyair harap maya
Bagi usangnya rindu sang Pemuja
Mengabarkan pada para pendamba
bahwa musim akan segera tiba
Musim ini menelan senja
Hilangkan ceria mencipta buram
Pesona hati para penyepi
Masih tetap berharap
Pada malam yang menjelang
Senyum ceria wajah sang malam
Terbayang gelisah dalam dambaan
Namun mengapa ia pun turut
menghilang bersama semua harapan
Hujan musim ini teramat memilukan
Menembus dalam kegelapan
Tanpa memberi celah harapan
Pada sebuah harap yang telah usang
Hujan musim ini telah porandakan
Kehidupan ceria suasana taman
Tak ada lagi harap mampu terjemput
Bagi jiwa Pendamba kesunyian
Harap hujan yang datang
Memberi arti pada hati yang hampir mati
Membasuh luka kepedihan baluri
Lara dan sepinya sebuah kehidupan
Tanamkan harap akan esok
Musim berganti mencipta warna pelangi
Tumbuhkan aneka kuntum bunga
Dalam taman semerbak mewangi
Musim ini tiadalah semua akan abadi
Mengapa harap hujan ini
Mencipta resahnya kehidupan
Sedangkan lara tak pernah luput
Dari duka Sang Pemilik taman
Apakah gerangan yang telah merobek
Rindu sang pendamba kesunyian
Subscribe to:
Comments (Atom)
Twitter
Facebook
Flickr
RSS
